Minggu, 08 Januari 2012

Dakwah Maksud Hidup

Jika Hidup Tidak untuk Dakwah
Terus kita mau ngapain?

pergi pagi
Dengan semangat mencari duniawi
Jika angkot macet, langsung berganti sewa taksi
Agar harta buruan tidak beralih dari sisi

pulang malam
Dengan jasad yang kelelahan
Nyampe di rumah mendekam sampai pagi datang

Lupakah kita
Rasulullah saw bagaikan rahib di malam hari
Dan menjadi singa di siang hari
Sementara kita
Tak peduli siang tak peduli malam
Yang penting dunia dalam genggaman

Sahabat cobalah kita renungkan
Apa sih yang ingin kugapai sampai harus membanting tulang
Apa sih yang ingin kubangun hingga pagi datang
Apa sih yang ingin kuraih hingga tubuh begitu letih

Jujur saja, untuk urusan perut, bukan?
Buat beli martabak atau nasi
Masuk perut dan kemudian raib menjadi kotoran

Jujur saja, untuk urusan rumah tempat tinggal, bukan
Buat beli keramik, AC ataupun busa
Dinikmati, rusak, ganti lagi tak berkesudahan

Jujur saja, untuk urusan kesenangan anak-anak yang dirindukan, bukan?
Buat pakaian, mainan, ataupun poster-poster idaman
Dinikmati, menghilang dari pandangan

Jika hidup hanya untuk itu semuanya
Maka harga diri
Nilainya sama dengan apa yang dimakan
Nilainya sama dengan apa yang di keluarkan dari perut hitam
Nilainya sama dengan apa yang di rindukan

Karena jasad tak ubahnya tembolok karung
Tempat penyimpanan semua makanan yang di makan
Karena jasad tak ubahnya perekat
Tempat semua kesenangan dunia melekat

Sepekan, setahun, sewindu kita bangun sejuta pundi uang
Kita lupa bahwa kelak yang Kita bangun itu pasti kau tinggalkan
Kita lupa bahwa tempat tinggal sesudahnya adalah istana masa depan

Tapi sahabat
Jika Kita hidup untuk dakwah
Tidak ada setitik harapan pun yang kelak dirugikan
Tiada seberkas amal pun yang tiada mendapat balasan

Tapi di dalamnya penuh ujian dan batu karang
Dan Kita harus yakin penuh akan janji Allah
Tapi di dalamnya tidak lekas Kita dapatkan keindahan
Dan Kita harus yakin bahwa inilah jalan kebaikan

Sahabat
Janganlah terlena dengan kesenangan fana
Janganlah terlena dengan gemerlapnya dunia
Itulah yang Allah berikan sebagai hak para musyrikin di dunia
Tiada usah Kita iri dan berpikir tuk hanyut bersamanya
Karena Kita tahu kehidupan mereka sesudahnya adalah neraka
Dan mereka kekal di dalamnya

Sahabat
Jangan sia-siakan hidup di dunia
Bangun rumah dakwah
Jika Kita diluaskan harta, kembalikan di jalan dakwah
Jika Kita diluaskan waktu, hibahkan di jalan dakwah
Jika Kita diluaskan tenaga, berikan untuk lapangnya jalan dakwah
Jika Kita diluaskan pikiran, gunakan untuk merenungi ayat-ayat-Nya
Jika Kita diluaskan usia, maksimalkan berikan yang terbaik untuk-Nya

Jangan jadikan dakwah sebagai kegiatan sampingan
Jangan jadikan dakwah sebagai hiburan
Jangan jadikan dakwah sebagai ajang gaul sesama teman
Jangan jadikan dakwah sebagai pengisi waktu luang
Jangan jadikan dakwah sebagai sarana memburu uang
Karena kelak yang Kita dapatkan adalah jahanam
Sebagai balasan atas kemusyrikan yang Kita jalankan

Sahabat
Jadikan dakwah sebagai ruh Kita di dunia
Jadikan dakwah sebagai rumah tinggal Kita di dunia
Jadikan dakwah sebagai tugas utama Kita di dunia
Jadikan bahwa hanya dengan dakwah diri Kita begitu bahagia
Jadikan bahwa tanpa dakwah Kita begitu menderita

Sahabat
Jalan dakwah inilah yang membedakan kita
Dengan para pendusta ayat-ayat-Nya
Dan jika Kita hidup di dunia ini tidak untuk tegakkan risalah-Nya
Itu artinya Kita pun sama dengan mereka
Yang lebih menyukai neraka ketimbang surga
Dan jika Kita hidup di dunia ini sebagai tujuan
Ingatlah bahwa tak lama lagi ruh bakal dicabut dari badan

Jika hidup tidak untuk dakwah
Trus Kita mo ngapain?

Mau jadi ayam?
Yang pergi pagi pulang petang
Kurang petang tambahin nyampe tengah malam

Tapi masih mendingan ayam
Karena ia rutin bangun sebelum azan
Dan teriakkan lagu keindahan
Tapi Kita
Rutin subuh setengah delapan
Apalagi kalo akhir pekan
Bisa jadi subuh hengkang dari pikiran

Tapi masih mendingan ayam
Karena ia berani pilih makanan yang ia inginkan
Tapi Kita
embat semua yang ada di hadapan
Tidak peduli daging, tumbuhan, ataupun batu hitam
Sementara Kita dikaruniai pikiran

sahabat renungkan kembali apa tujuan Kita yang sebenarnya ???

apakah Kita akan terus mengejar dunia yang sementara, pada akhirnya ia akan mencampakan Kita karena Kita adalah orang yang bodoh dan merugi

atau

apakah Kita akan mengejar akhirat yang kekal, di mana ia kan menunggu dengan sabar…..karena yang di tunggu adalah orang yang cerdas dan beruntung.  Allohu A'lam

...dari seorang kawan...

Hati

Demi Allah.. Dzat Yang Maha Menguasai Hati. Mungkin tidak cukup dalam setahun ini untuk menata hati. Ya, kita mengetahui bahwa hati ini selalu dibawa kemana pun kita pergi. Sadar atau tidak, ternyata hati inilah yang mengajak kita untuk berpikir lebih bijaksana. Atas segenap urusan yang merintangi perjalanan da’wah kita. Atas segenap cobaan yang memaksa kita untuk berhenti. Namun kesemuanya itu tuntas dengan kesucian hati. Bersyukurlah bahwa kita masih bisa menghadirkan suasana hati terbaik di setiap syuro yang kita lewati. Semoga Nashrullah yang senantiasa menyapa pemikiran-pemikiran kita merupakan buah dari kebeningan hati kita. Semoga berkah dari setiap agenda-agenda da’wah yang kita jalani adalah karena hati ini telah tertunaikan haknya, karena kita senantiasa berusaha untuk menjaga fitrahnya.

Sadarilah.. Pertolongan Allah itu membahagiakan dan ujian hidup yang kita lalui selalu menuai kesedihan demi kesedihan. Itulah dua keniscayaan yang akan datang silih berganti mendatangi bilik-bilik hati kita. Namun tidak bagi seorang mu’min yang teguh hatinya. Ia tetap bersahaja ketika kuntum bunga kebahagiaan itu datang, namun ia juga menggenapkan kesabarannya saat ujian demi ujian menghampirinya. Cukuplah kisah terdahulu menjadi pelajaran-pelajaran berharga yang semoga kecelakaan-kecelakan zaman tidak lagi terjadi di masa ini. Tentang suatu kaum yang menderita karena telah hadir cobaan dari Allah swt yang begitu dahsyatnya. Tentang suatu kaum yang berputus asa terhadap wabah kemiskinan dan kesengsaraan pada suatu masa, sehingga mereka lalai dan mencari pengharapan ke berhala-berhala yang sudah jelas kesesatannya. Tentang suatu kaum yang menunda-nunda memeluk agama ini, yang pada akhirnya peringatan demi peringatan Allah swt jatuhkan kepada kaum tersebut. Begitu menyedihkan.

Saudaraku.. Kejadian umat terdahulu adalah kisah nyata yang ibrohnya akan menasehati dan membersihkan hati kita. Adakah kita ingin mengulang kejadian demi kejadian seperti yang terjadi belasan bahkan puluhan abad yang lalu? Cukuplah itu semua terangkum dalam kitab yang sempurna, yang semoga setiap ayat di dalamnya menjadi peneguh hati kita, dimana siyasatud da’wah yang diajarkannya menjadi rujukan dalam menggencarkan strategi demi strategi, dimana di setiap bait Kalam-Nya yang indah itu kita bisa menemukan kesejukan demi kesejukan. Dengan kalimat-kalimat-Nya yang terbaik itu, mari sucikan hati kita wahai saudaraku. Tidak pantas bagi kita untuk menunaikan suatu perkara yang suci apabila hati ini masih terkotori oleh penyakit-penyakit hati. Tidakkah kita ingin agar Allah swt ridho terhadap sekecil apapun amal yang kita kerjakan? Atau yakinkah bahwa apa yang kita kerjakan selama ini penuh berkah Allah swt? Semoga sampai hari ini amal-amal tersebut mengalir penuh keikhlasan, tiada mengharap apapun kecuali ridho Allah swt semata. Karena keikhlasan adalah kepasrahan diri kepada-Nya yang akan menjadikan hati ini suci. Dan karena kesucian hati membawa keberkahan..

Akhirnya.. Tiada pengharapan lain kecuali keberkahan yang mendatangkan hikmah dan dikumpulkannya setiap jiwa bersama umat yang terjaga keshalihannya. Semoga lantunan do’a yang pernah dituturkan oleh Nabi Ibrahim as menjadi muara pengharapan kita:

Rabbi hablii hukmawwalhiqnii bishshoolihiin.. Ya Tuhan-ku, berikanlah kepadaku hikmah, dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih.. (QS Asy-Syu’ara:83)

al-khilaafu syarr ( Perpecahan itu hal yg buruk)

Telah diriwayatkan oleh Abu Dawud 1/307 bahwa Utsman radhiallahu 'anhu ketika shalat di Mina empat rakaat. Maka Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anhu mengingkari pendapat tersebut seraya berkata: "Aku shalat di belakang Nabi dua rakat, aku shalat di belakang Abu Bakar dua rakaat dan aku shalat di belakang Umar dua rakaat, bahkan shalat di belakang Utsman beberapa waktu dalam pemerintahannya juga dua rakaat, namun kemudian ia sekarang menyempurnakannya empat rakaat, hingga terpecahlah jalan-jalan kalian. Sungguh aku sangat berharap dari empat rakaat ini ada dua rakaat yang diterima di sisi Allah. Kemudian Ibnu Mas'ud radhiallahu 'anhu shalat menggenapkan empat rakaat bersama Utsman radhiallahu 'anhu. Maka beberapa orang bertanya kepada beliau: "Engkau salahkan Utsman, tetapi engkau shalat di belakangnya empat rakaat?!" Beliau menjawab: "Perpecahan adalah jelek". Riwayat ini sanadnya shahih.
Diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad (5/155) riwayat seperti ini dari Abu Dzar radhiallahu 'anhu.

Taubat

Salah satu ciri orang mukmin adalah bila dia melakukan perbuatan kekejian atau menzalimi dirinya sendiri, maka mereka pun mengingat Allah kemudian beristighfar meminta ampun kepada Allah atas dosa-dosa mereka. Dalam beribadah kepada Allah, mereka mengamalkan asma’ Allah Al Ghafur Ar Rahim dan Allah Maha penerima taubat serta Maha penyayang kepada hamba-hambaNya yang bertaubat dengan tulus. Tetapi dia juga tidak tertipu dengan sifat maghfirah (mengampuni dosa) dan rahmah (penyayang) yang ada pada diri Allah Subhanahu wa ta’ala. Sehingga dia tidak akan mempunyai pikiran untuk bermudah-mudah melakukan maksiat dengan dalih nantinya pasti bisa bertaubat dan Allah adalah Dzat yang Maha menerima taubat.


Allohu A'lam

Ukhti, kamu cantik sekali...


Ukhti, kamu cantik sekali
Tapi hanya di mata manusia. Sedangkan yang Maha Kuasa tak pernah memandang rupa atau pun bentuk tubuh kita. Namun Ia melihat pada hati dan amal-amal yang dilakukan hamba-Nya.

Ukhti, kamu cantik sekali
Tapi cantik fisik tak akan pernah abadi. Saat ini para pesolek bisa berbangga dengan kemolekan wajah ataupun bentuk tubuhnya. Namun beberapa saat nanti, saat wajah telah keriput, rambut pun kusut dan berubah warna putih semua, tubuh tak lagi tegak, membungkuk termakan usia, tak akan ada lagi yang bisa dibanggakan. Lebih-lebih jika telah memasuki liang lahat, tentu tak akan ada manusia yang mau mendekat.

Ukhti, kamu cantik sekali
Tapi kecantikan hanyalah pemberian dan untuk apa dibangga-banggakan? Sepantasnya kecantikan disyukuri dengan cara yang benar. Mensyukuri kecantikan bukanlah dengan cara memamerkan, memajang gambar atau mengikuti bermacam ajang lomba guna membandingkan rupa, sedangkan hakekatnya wajah itu bukan miliknya.
Tidakkah engkau jengah bila banyak mata lelaki ajnabi yang memandangi berhari-hari? Tidakkah engkau malu ketika wajahmu dinikmati tanpa permisi karena engkau sendiri yang memajang tanpa sungkan. Ataukah rasa malu itu telah punah, musnah? Betapa sayangnya jika demikian sedangkan ia sebagian dari keimanan.

Ukhti, kamu cantik sekali
Tapi apa manfaat pujian dan kekaguman seseorang? Adakah ia akan menambah pahala dari-Nya? Adakah derajatmu akan meninggi di sisi Ilahi setelah dipuji? Tak ada yang menjamin wahai ukhti. Mungkin malah sebaliknya, wajah cantik itu menjadikanmu tak punya harga di hadapan-Nya, karena kamu tak mampu memelihara sesuai dengan ketentuan-Nya.

Ukhti, kamu cantik sekali
Kecantikan itu harta berharga, bukan barang murah yang bisa dinikmati dengan mudah. Dimana nilainya jika setiap mata begitu leluasa memandang cantiknya rupa. Dimana harganya jika kecantikan telah diumbar, dipajang dengan ringan tanpa sungkan. Dimana kehormatan sebagai hamba tuhan jika setiap orang, baik ia seorang kafir, musyrik atau munafik begitu mudah menikmati wajah para muslimah?

Ukhti, kamu cantik sekali
Alangkah indah jika kecantikan fisik itu dipadu dengan kecantikan hatimu. Apalah arti cantik rupawan bila tak memiliki keimanan. Apalah guna tubuh molek memikat bila tak ada rasa malu yang lekat. Cantikkan dirimu dengan cahaya-Nya. Cahaya yang bersinar dari hati benderang penuh keimanan. Hati yang taat senantiasa patuh pada syariat. Hati yang taqwa, yang selalu menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Hati yang sederhana, yang tak berlebihan dalam segala urusan dunia.

Ukhti, kamu cantik sekali
Maka tampillah cantik di hadapan penciptamu karena itu lebih berarti dari pada menampilkan kecantikan pada manusia yang bukan muhrimmu
Tampillah cantik di hadapan suamimu, karena itu adalah bagian dari jihadmu. Mengabdi pada manusia yang kamu kasihi demi keridhoan Ilahi.
Tampillah cantik, cantik iman, cantik batin, cantik hati, karena itu lebih abadi.

Wahai ukhti,...


wahai ukhti jagalah tubuh dan kecantikanmu
jangan biarkan setiap orang bisa dengan mudah menikmati kecantikan dan keindahan tubuhmu
betapa sangat berharga, betapa kami sangat mengagumi akan sosok dirimu
jangan jatuhkan harga dirimu dengan mengobral keindahan tubuh dan kecantikanmu

tidakkah engkau merasa kasihan kepada kami yang selalu menundukan pandangan ketika bertemu denganmu
sakitnya menahan nafsu yang begitu besar ketika bertemu denganmu
hanya karena kalian memamerkan keindahan tubuh kepada kami
kami tidak ingin menjadikan kalian para wanita menjadi hina dimata kami
kami ingin selalu menggungkan kaum kalian di mata kami

wahai ukhti kasihanilah kami dengan tidak mengolok-olok kami dengan tubuh kalian
bagaimanapun kami adalah mahluk lemah, yang harus berjuang mati-matian untuk menahan nafsu kami

wahai ukhti Kecantikanmu dan keindahanmu itu harta berharga bukan barang murah yang bisa dinikmati dengan mudah. 
Dimana nilainya jika setiap mata begitu leluasa memandang cantiknya rupa dan indahnya tubuhmu.
Dimana harganya jika kecantikan dan tubuhmu telah diumbar,dipajang dengan ringan tanpa sungkan. 
Dimana kehormatanmu sebagai hamba Tuhan, jika setiap orang begitu mudah menikmati memandang wajah dan tubuhmu



SABDA NABI ShallaLLohu Alayhi Wa Sallam :

"Wanita manapun yang berdiri bersama selain suaminya, dan orang lain itu bukan muhrimnya, maka Allah Swt. pasti akan menyuruhnya berdiri di tepi neraka Jahannam dan setiap kalimat yang diucapkan akan tertulis baginya... seribu kejelekan."

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada jasad-jasad kalian dan tidak juga kepada rupa-rupa kalian akan tetapi Allah melihat kepada hati-hati kalian (dan amalan-amalan kalian)” (HR. Muslim)

WaLLohu A'lam

Untuk siapa foto itu di pajang di fesbuk, ukhty?

Tulisan ini hanya sekedar peringatan buat akhwaat yang masih suka memajang foto-fotonya di internet seperti di Blog, Situs Forum, khususnya di Facebook dimana sekarang hampir semua aktivis dakwah yang melek internet mempunyai akun di situs pertemanan tersebut.


Dari pengamatan saya selama memiliki akun di Facebook yang paling membuat miris adalah banyaknya wanita berjilbab yang memajang foto mereka bahkan beberapa di antaranya ada yang close up. Dari profile mereka ketahuan bahwa sebagian besar dari mereka adalah aktivis dakwah. Bagi yang masih mempunyai foto yang diupload ke FB, FS ataupun lainnya maka saya sarankan untuk segera menghapusnya dengan pertimbangan berikut ini:


1. Anda bisa jadi korban pornografi
--------------------------------------------

Ketika Anda mengupload foto ke internet maka yakinlah foto tersebut sudah bukan milik Anda, tidak ada yang benar-benar privasi di dunia maya. Anda mungkin merasa aman karena foto tersebut tersimpan di akun Anda yang kapan saja kalau mau Anda bisa menghapusnya tapi itu hanya perkiraan Anda. Jutaan orang yang bisa mengakses ke profil Anda, mereka bisa mendownloadnya dan menyebarkannya di tempat lain. Jadi meskipun dikemudian hari Anda menghapusnya tapi ia sudah terlanjur menyebar dan mustahil bagi Anda untuk mencegahnya.



Hal yang paling ditakutkan adalah ketika orang-orang usil mendapatkannya dan “tergoda” untuk menjahili Anda. Ini biasanya dilakukan oleh orang-orang yang benci dengan Islam. Misalnya dengan memanipulasinya dan menjadikan Anda “Bintang Pornografi”. Dengan kecanggihan software pengolah gambar hal itu bisa dilakukan dengan waktu hanya beberapa menit. Setelah itu mereka bisa menebarnya ke ribuan link hanya dalam hitungan detik.


Hal ini sudah pernah terjadi pada seorang artis dimana foto syurnya beredar di internet, sampai-sampai harus menurunkan pakar telematika, Roy Suryo untuk membersihkan namanya dengan menjelaskan bahwa foto tersebut hasil manipulasi. Dan tidak dipungkiri bahwa banyak foto wanita berjilbab bahkan bercadar dengan tubuh telanjang yang bersiliweran di dunia maya, termasuk korbannya adalah salah seorang istri ustadz kondang.


Meski dengan mudah orang menebaknya sebagai sesuatu yang di rekayasa, tapi bukankah itu sudah cukup untuk menghinakan dan melecehkan, namun kitalah memberi peluang kepada orang hasad tersebut untuk melakukannya. Nah, sebelum terlanjur hapus foto Anda dari dunia maya!



2. Anda pajang untuk siapa?
-------------------------------------

Ada pertanyaan bagi muslimah yang memajang fotonya di internet, foto itu Anda pajang untuk siapa?


Allah subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan muslim dan muslimah untuk menjaga pandangannya dari lawan jenis yang bukan mahram. Tak sampai di situ Allah pun memerintahkan masing-masing kepada mereka untuk saling menjaga diri (An-Nur (24): 30-31). Di sini ada simbiosis mutualisme, jika seorang wanita yang menjaga dirinya dengan hijab yang syar’i maka dengan sendirinya laki lain juga akan terjaga pandangannya meski laki-laki tersebut tidak paham agama, nah bagaimana jika laki-laki tersebut juga paham akan agama tentu ia juga menjaga diri dan pandangannya. Sadar atau tidak mereka saling menguatkan dalam kebaikan, dan itulah mungkin maksudnya Allah menegaskan dalam firman-Nya bahwa laki-laki beriman dan wanita yang beriman adalah penolong bagi yang lainnya, dan mereka saling menguatkan dalam keimanan dan keta’atan (QS. at-Taubah (9) : 71.).


Ketika mengupload foto Anda di internet maka anda secara tak langsung telah “menandatangani kontrak” bahwa anda membebaskan siapapun bebas untuk memandang Anda tanpa terkecuali. Terus dimana penjagaan Anda terhadap kehormatan Anda dan orang lain?


Ummul Mu’minin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah mengatakan bahwa seandainya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup dan melihat tingkah laku wanita pada zaman tersebut maka tentu beliau akan melarangnya untuk keluar rumah. Perkataan ini beliau katakan ketika para sahabat masih berada di tengah-tengah mereka dan mengajarkan ilmu kepada mereka, mereguk Islam seperti menikmati air langsung dari mata airnya, ketika para muslimah masih menjaga hijab-hijab mereka, bandingkanlah keadaan tersebut dengan sekarang ini dimana kebanyakan wanita sudah tidak bisa menjaga kehormatannya.


Wahai wanita malulah! Wahai para suami cemburulah! Wahai para orang tua jagalah anakmu dari kerusakan! Wahai para ikhwa yang akan menggenapkan separuh agamanya jagalah dirimu dan carilah wanita yang shalehah yang menjaga dirinya serta berlindunglah dari wanita yang masih suka “menjajakan” dirinya.



Allohu a'lam.